Selasa, 01 Agustus 2017

Sejarah Desa Purbayasa

PURBAYASA

Purbayasa merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah Indonesia. Konon salah satu nenek moyang yang pernah hidup di lingkungan Desa Purbayasa Kecamatan Pangkah, berjuluk mBah Suraguna. Kabarnya, selain mBah Suraguna sakti mandraguna juga diyakini masyarakat sebagai cikal bakal sesepuh yang ahli dalam bidang pertukangan kayu. Diceritakan, pada tahun 1828 di mana Bupati Tegal dijabat Raden Mas Agung Reksonegoro VI, mBah Suraguna diminta bupati untuk membikin sebuah blandar Pendopo. mBah Sura¬ guna pun menyanggupi. Tapi sialnya, begitu blandar mau dipasang, seketika ukuran berkurang dari satu meter. Kenyataan itu membuat Kanjeng Bupati menjadi marah besar. Karena itu mBah Suraguna diancam hukuman pancung.
"Suraguna, andai saja sira tidak bisa mengembalikan ukuran blandar sebagaimana mestinya. Hukumanmu adalah hukum pancung." demikian Kanjeng Bupati mengancam Mbah Suraguna.
"Nuwun inggih Kanjeng Pati. Hamba siap dihukum pancung, tapi hamba mohon pada, Kanjeng Pati supaya hamba diberi luang waktu barang 40 hari. Sekiranya blandar pendopo tidak kembali pada ukuran semula, kepala hamba siap dipancung." ujar Suraguna. Konon, pada 40 hari yang telah ditentukan, ukuran kayu blandar mampu dikembalikan sebagaimana mestinya dengan cara ditarik-tarik menggunakan tangannya sendiri.
Sejak itu mBah Suraguna kesohor sebagai ahli pertukangan kayu di wilayah Tegal dan sekitarnya. Kini, anak cucu keturunan mBah Suraguna. ahli dalam bidang pertukangan kayu.
Selain itu, Desa Purbayasa merupakan daerah pedesaan yang dilimpahi berkat tanah pertanian yang subur tumbuhan yang menghijau, di atas tanah yang datar ditumbuhi pepohonan, semak belukar yang lebat. Desa Purbayasa berdekatan dengan Desa Dermasandi dan Balamoa sebagai pos pejuang Republik Indonesia. Tidak mengherankan saat Desa Purbayasa pernah diporak porandakan oleh kompeni bangsa Belanda, rumah-rumah dirusak bahkan ada yang tertembak sebagai saksi hidup Mbah Tiwen dan warga banyak membantu perang.
Setelah perang kemerdekaan berakhir, atas dukungan camat, tokoh masyarakat seperti Juragan Wasngad, Juragan Dipa, Kyai Marjuki, Kyai Muhyi, Kyai Dasuki dan Kyai Abdurahman mengadakan musyawarah dengan masyarakat untuk mengurus rumah tangga pemerintah. Rapat-rapat melibatkan masyarakat kemudian digelar, tidak lupa pula inspeksi dan pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten untuk memastikan kesiapan masyarakat Desa Purbayasa. Setelah persiapan matang dilakukan pada tahun 1946, kepemimpinan baru untuk mengatur pemerintahan Desa Purbayasa sebagai desa otonomi di wilayah Kecamatan Pangkah sebagai kepala desa terpilih Bapak Rais.
Desa Purbayasa kemudian menjadi desa yang berkembang ramai, hal ini dibuktikan dengan adanya pendatang yang ingin menetap dan tinggal. Desa Purbayasa pantas menjadi desa berkembang karena memiliki jalan raya yaang strategis menghubungkan transportasi perekonomian antara Balamoa-Banjaran sehingga menjadi ramai kesejahteraan masyarakat meningkat dapat dilihat dari rumah-rumah semakin padat dibuat dari beton yang telah memenuhi standar kesehatan dan keindahan.

Nb : Kepala Desa Purbayasa

Sejarah Kali Gelap Paku Laut

KALI GELAP

Kaligelap merupakan salah satu pedukuhan yang ada dalam wilayah Desa Pakulaut, Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal. Di pedukuhan itu, pada tiap malarn Jum'at ' Kliwon kerap terjadi suatu pemandangan yang fantastis dan magis. Biasanya di wilayah Kaligelap, sekejap berubah menjadi bayangan lautan lepas di mana kapal kapal tongkang hilir mudik, dan lampu lampu kapal menerangi air laut beserta ratusan orang yang berlalu lalang di tepi pantai dengan barter barang dagangannya.
Menurut cerita yang beredar di masyarakat Pakulaut, di Kaligelap pernah terjadi satu pertempuran yang sangat mengerikan antara warga pribumi dengan bangsa Portugis. Awalnya, ada kapal dagang milik Portugis membuka pasar berupa barang barang keramik atau barang antik lainnya berupa perhiasan emas. Pada yang kesekian kali, pemilik yang menjadi nakhoda beserta anak buah kapal dinilai warga Pakulaut tidak pernah menghormati tata aturan yang berlaku. Ditambah karena kejamnya sang nakhoda, maka sebuah pertempuran pun tak bisa dihindarkan. Satu sama lain saling tonjok, hantam, dan menikam.
Pada klimaksnya, kapal Portugis karam. Sebagian badan kapal masuk ditelan laut, sebagian lagi mencuat ke atas. Tak lama datanglah badai menenggelamkan kapal hingga ke dasar laut beserta barang dagangannya dan awak kapal. Peristiwa yang tragis itu kemudian menandai lahirnya sebuah Pedukuhan Kaligelap. karena semua orang yang ada lenyap seketika.
Menurut buku "Tegal Sepanjang Sejarah" terbitan Depdikbud Kabupaten Tegal, wilayah Pakulaut pernah menjadi sebuah lautan akibat dari zaman yang mengalami trasgresi di mana banyak gunung es mencair. Laut pun menjadi pasang dengan sangat hebatnya, mengakibatkan lembah Kali Pemali atau Cacaban dan sebagainya tertutup air.
Ratusan tahun yang silam endapan lumpur yang kian lama kian membukit, maka air lautpun berkurang dan akhirnya Desa Pakulaut menjadi sebuah bandar. Terbukti dengan adanya Desa Dukuhbenda perubahan dari kata. "bandar". Serta pernah ditemukan tali ijuk besar oleh penduduk sewaktu menggali sebuah sumur di Desa Pakulaut


Sejarah Tanah Jawa (Syekh Baqir)

BABAD TANAH JAWA,Syekh Subakir



Beliau adalah SYEKH TAMBUH ALY BEN SYEKH AL-BAQIR (SYEKH SUBAKIR) bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly biSalman Alfarisiy Asshohabi Rodliyallohu anhu waanhum ajmain atau yang lebih kita kenal Syekh Subakir. 
Syekh Subakir, sangat-lah berjasa dalam menumbali tanah Jawa, ”Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, Sudah beberapa kali utusan dari Negeri Arab, untuk menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya tapi telah gagal secara makro. Disebabkan orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai bumi dan laut di sekitar P. Jawa. 
Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan Agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Secara makro dapat dikatakan gagal. Maka diutuslah Syekh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang oleh Syekh Subakir di seantero Nusantara, untuk tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar . Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus lainnya. Syekh Subakir lah yang mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi mereka sesumbar dengan berkata: “ Walaupun kamu sudah mampu meredam amukan kami, kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah tetap masih berlaku atas ku, ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata Syekh Subakir. Kata Jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk orang-orang Islam yang imannya masih lemah”. 
Syekh Subakir berasal dari Iran (dalam riwayat lain Syekh Subakir berasal dari Rum, Baghdad). Syekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404.  Mereka diantaranya:
1.       Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. 
2.       Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan. 
3.       Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir. 
4.       Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko. 
5.       Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara. 
6.       Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan. 
7.       Maulana Hasanudin, dari Palestina. 
8.       Maulana Aliyudin, dari Palestina. 
9.       Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.
Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa gunung Tidar dikenal dengan Paku Tanah Jawa. Gunung Tidar tidak dapat terpisahkan dengan pendidikan militer. Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai "Pakunya tanah Jawa" itu terletak di tengah Kota Magelang. Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut, Gunung Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa. 
Di Lembah Tidar ini terdapat Akademi Militer atau kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga berdiri pada 11 November 1957. Di puncak Gunung Tidar ada lapangan yang cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman. 
Gunung Tidar tidak hanya terkenal sebagai ikon atau identitas Kota Magelang. Bagi sebagian orang yang memang nglakoni lelaku spiritual , Gunung Tidar merupakan salah satu obyek yang menjadi tempat tujuan mereka untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Dahulu, Gunung Tidar terkenal akan ke-angker-annya dan menjadi rumah bagi para Jin dan Makhluk Halus. Jalmo Moro Jalmo Mati, setiap orang yang datang ke Gunung Tidar bisa dipastikan kalau tidak mati ya modar (dan mungkin hal ini yang menjadi asal usul nama Tidar). 
Berdasarkan penuturan Juru Kunci Gunung Tidar, di Gunung Tidar terdapat 2 buah makam yaitu Makam Kyai Sepanjang dan Makam Sang Hyang Ismoyo (atau yang lebih dikenal sebagai Kyai Semar). Sedangkan tempat yang selama ini dikenal sebagai Makam Syekh Subakir sebenarnya hanyalah petilasan beliau. Jadi, beliau dikenal sebagai wali Allah yang menaklukkan Jin dan Makhluk Halus di Gunung Tidar sehingga para makhluk halus tersebut ‘mengungsi’ ke Pantai Selatan, tempat Nyai Roro Kidul. Setelah berhasil menaklukkan Jin dan Makhluk Halus, Syekh Subakir kembali ke tanah asalnya di Rom (Baghdad). Di petilasan Syekh Subakir ini tersedia mushola kecil dan pendopo. Petilasan Syekh Subakir sebelumnya ditandai dengan adanya kijing yang terbuat dari kayu. Setelah dipugar, kijing tersebut diletakkan di pendopo dan diganti dengan batu fosil yang berasal dari Tulung Agung serta dikelilingi pagar tembok yang berbentuk lingkaran dan tanpa atap. Pada tahap berikutnya, kedudukan Syekh Subakir, Sang Babad Tanah Jawa sebagai salah satu Wali Songo, digantikan oleh Sunan Kalijaga yang banyak disebut-sebut pimpinan para wali di Tanah Jawa karena kekeramatannya yang begitu melegenda. 
ADA satu kisah menarik dalam petilan “Babad Tanah Jawa”. Meskipun kisah ini merupakan petilan. Namun intisari yang tertanam di dalamnya, ternyata tetap masih aktual di saat ini sekali pun. Ketika itu, datanglah para ulama dari “Sebrang Lautan” (Mesir) ke Tanah Jawa. Tujuan para ulama utusan Sultan Mesir itu adalah untuk menyebarkan agama Islam, yang menurut laporan masih banyak penduduk Jawa yang kafir. Para ulama itu dipimpin seorang Syeh yang bernama Syech Subakir Sebelum Syech Subakir datang, telah beberapa kali ulama pendahulunya menginjakan kakinya di Tanah Jawa. Namun, setiap kali mereka datang, selalu gagal menyebarkan agama Islam. Mengapa? Pertanyaan itulah yang berada di benak Syech Subakir. Dan tidak berapa lama setelah sampai ke Tanah Jawa, Syech asal Persia (Iran) itu berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Ternyata, seluruh Tanah Jawa dari ujung Timur sampai ke Barat di jaga oleh bangsa jin yang dipimpin Sabdo Palon. 
Kegagalan para ulama sebelum (Syeh Subakir) adalah karena ulah mereka, para jin kafir yang tidak mau masuk Islam dan menentang Islam berkembang di Tanah Jawa. Untungnya, Syech Subakir menguasai ilmu tentang makhluk halus, sehingga dia dan para ulama yang dipimpinnya berhasil mengetahui keberadaan para jin tersebut. Dalam wujud kasarnya, para mahluk halus itu ada yang berujud ombak yang besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya. Juga angin puting beliung, dan sebagainya yang mampu memporak- porandakan apa saja yang ada dihadapannya, termasuk menjelma menjadi hewan buas, harimau, ular dan sebangsanya. Perubahan bentuk dan ujud itulah yang selama ini diduga mencelakakan para ulama yang bermaksud menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Maka kemudian terjadilah pertempuran yang dasyat antara para jin pimpinan Sabdo Palon dengan pasukan ulama pimpinan Syech Subakir. Konon, pertempuran itu terjadi selama berhasi- hari, tanpa ketahuan siapa yang bakal memenangkannya. Karena melihat situasi yang tidak menguntungkan, maka Sabdo Palon mengajukan usulan gencatan senjata. Syech Subakir yang melihat itu sebuah peluang, menerima ajakan Sabdo Palon. Maka terjadilah kesepakatan antara keduanya. Isi kesepakatan antara lain, Sabdo Palon memberi kesempatan kepada Syech Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara paksaan atau memaksa. Kemudian Sabdo Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di Tanah Jawa—Raja-raja Islam—namun dengan catatan. Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adapt istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang dakuinya, tetapi biarlah adapt dan budaya berkembang sedemikian rupa. Dan yang terpenting, jadi pemimpin janganlah terlalu lurus, namun juga jangan terlampau bengkok. Hal ini sempat dipertanyakan Syech Subakir kepada Sabdo Palon, mengapa seorang pemimpin tidak boleh benar-benar lurus. Dijawab Sabdo Palon, karena pemimpin itu menjadi pimpinan semua orang. Dan orang tidak semuanya lurus, pasti banyak pula yang bengkok. Lha, orang yang bengkok-bengkok itu akan ikut siapa, bila pemimpinnya lurus? Legenda Gunung Tidar Magelang Keberadaan daerah Magelang terbungkus oleh berbagai legenda. 
Salah satu dongeng yang hidup dikalangan rakyat mengisahkan --sebagaimana dikisahkan M. Bambang Pranowo (2002)-- bahwa pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Jawa baru saja diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dalam bentuk tanah yang terapung-apung di lautan luas; tanah tersebut senantiasa bergerak kesana kemari. Seorang dewa kemudian diutus turun dari kahyangan untuk memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak. Kepala dari paku yang digunakan untuk memaku Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tidar. Gunung yang terletak di pinggir selatan kota Magelang yang kebetulan berada tepat dibagian tengah Pulau Jawa tersebut memang berbentuk kepala paku; karena itu gunung Tidar dikenal luas sebagai “pakuning tanah jawa”. Dongeng lain yang tentunya diciptakan setelah masuknya Islam mengisahkan bahwa pada zaman dahulu daerah ini merupakan kerajaan jin yang diperintah oleh dua raksasa. Syekh Subakir, seorang penyebar agama Islam, datang ke daerah ini untuk berdakwah. Tidak rela atas kedatangan Syekh tersebut terjadilah perkelahian antara raja Jin melawan sang Syekh. Ternyata Raja Jin dapat dikalahkan oleh Syekh Subakir. Raja Jin dan istrinya kemudian melarikan diri ke Laut Selatan bergabung dengan Nyai Rara Kidul yang merajai laut Selatan. Sebelum lari Raja Jin bersumpah akan kembali ke Gunung Tidar kecuali rakyat didaerah ini rela menjadi pengikut Syekh Subakir. Legenda ini sangat melekat bagi masyarakat tradisional Jawa, tidak sekedar di Magelang, tapi juga ke daerah-daerah lain di Jawa, bahkan sampai di Lampung dan mancanegara (Suriname). Hal ini karena telah disebutkan dalam jangka Joyoboyo dan mengalir secara tutur tinular menjadi kepercayaan masyarakat. Apalagi pemerintah kota Magelang menjadikan Tidar sebagai simbol atau maskot daerah dengan menempatkan gunung Tidar yang dilambangkan dengan gambar paku di dalam logo pemerintahan. Di samping itu nama-nama tempat begitu banyak menggunakan nama Tidar, seperti nama Rumah Sakit Umum Daerah, nama perguruan tinggi, nama terminal dll. Yang semuanya menguatkan gunung Tidar menjadi legenda abadi.

Senin, 31 Juli 2017

Sejarah Stasiun Kudaile Slawi







     Stasiun Kudaile(KDE) merupakan stasiun mati yang terletak di petak antara stasiun Slawi(SLW) dan stasiun Banjaran(BJN),sekitar 600 meter arah utara dari perempatan langon Trayeman,(PJL 26).dulunya stasiun ini merupakan stasiun untuk menaik turunkan penumpang kereta lokal Tegal Prupuk yang waktu itu masih ditarik dengan lokomotif uap,selain itu stasiun ini dulu juga dijadikan gudang penyimpanan hasil bumi seperti tebu,singkong,kayu jati,dll.tidak jauh dari stasiun ini ada lahan tebu milik rakyat dan ada rel lori mati yang membentang dari timur kebarat,diduga rel mati tersebut membelok ke selatan dan mengikuti arah rel yang sekarang masih hidup(rel TG – PPK) yang berujung di gudang penyimpanan hasil bumi.sekarang stasiun ini menjadi rumah warga dan menjadi tempat usaha toko bunga pemilik rumah tersebut.yang lewat stasiun ini pun hanya kereta ketel(kereta tanker pengangkut minyak pertamina) dan Kaligung.Stasiun Kudaile yang terlihat sekarang hanyalah bangunan stasiun,bekas wesel ke spoor 2,bekas peron,dan plang aset dari PT.KAI yang ditemukan tidak jauh dari bangunan stasiun. Berikut yang kami temukan di lapangan: 

Gambar 1 Plang aset dari PT.KAI yang ditemukan tidak jauh dari bangunan stasiun.
Gambar 2 Rel yang ditandai merah adalah rel belok yang mengarah ke jalur2,sedangkan yang hijau merupakan jalur Tegal Prupuk yang sekarang masih aktif.
Gambar 3 Stasiun Kudaile yang sekarang menjadi rumah warga dan toko bunga.
Gambar 4 Stasiun kudaile hanya mempunyai 1 pintu ke peron.

  Di lapangan tidak ditemukan plang nama stasiun dan ketinggianya dari permukaan laut, gudang yang digunakan untuk menyimpan hasil bumi,sinyal muka dan sinyal masuk.

    Banyak pihak yang mengatakan bahwa bangunan ini adalah halte seperti halte klampok di petak TG BB,dilihat dari bangunanya yang kecil memang seperti halte,tetapi dilihat dari fungsinya dahulu seperti stasiun kelas 3.sampai sekarang belum diketahui apakah dulunya bangunan ini stasiun atau halte,sepertinya kita memang harus kembali ke tahun 1970an smbr railfans tegal

Sejarah Desa Balaradin


  Desa Balaradin adalah sebuah desa di kecamatan LebaksiuKabupaten TegalJawa TengahIndonesia. Desa ini terdiri dari enam pedukuhan yaitu Pedukuhan Krajan, Dukuhsuwiyan, Dukuhduren, Makamdawa, Dukuhgowok dan Pedukuhan Pegaduan. Krajan adalah pedukuhan yang paling luas, dan pedukuhan ini merupakan induk dari semua pedukuhan di Balaradin, sedangkan pedukuhan yang paling kecil adalah Dukuhgowok dan Pegaduan. Pedukuhan Pegaduan sendiri merupakan pedukuhan yang terbagi dua, yaitu bagian utara masuk dalam wilayah desa Kambangan, sedangkan bagian selatan masuk dalam wilayah Desa Balaradin. Desa Balaradin terdiri dari 7 RW dan 35 RT. 
     Dengan jumlah penduduk sekitar 6.200 jiwa, masyarakat Balaradin sebagian besar adalah petani. Ragam profesi yang lain adalah buruh, wiraswasta dan PNS. Mayoritas buruh bekerja di luar desa, bahkan hingga ke ibukota Jakarta.
     Desa Balaradin merupakan desa Agamis sehingga kehidupan sehari-harinya kental dengan nuansa agama dan selayaknya, banyak tempat-tempat ibadah berupa Masjid dan Musholla . Balaradin memiliki dua masjid besar (masjid Jami') yang digunakan untuk shalat jum'at, yaitu Masjid Baitussalam dan Masjid Darunnajah. Sedangkan untuk musholla, tersebar hampir di setiap RW. bahkan ada beberapa di lingkup RT. dengan total terdapat 13 Musholla di Balaradin.


SEJARAH DESA BALARADIN

      Menurut cerita tutur dari tetua masyarakat, sejarah Desa Balaradin telah berlangsung setidaknya sejak zaman perang kemerdekaan (1857-1900). Sebelum masara kemeredekaan, wilayah Desa Balaradin termasuk dalam wilayah Rawa-rawa. Desa Balaradin merupakan salah satu dukuh dari Rawa-wara yang belum mempunyai nama. Rawa-rawa merupkan daerah pedesaan yang dilimpahi berkat tanah pertanian yang subur, tumbuhan yang menghijau, di atas tanah yang datar ditumbuhi pepohonan dan semak yang masih lebat. Tak heran wilayah Desa Balaradin menjadi tempat persembunyian dan markas pejuang-pejuang kemerdekaan, warga dukuh Balaradin banyak membantu pejuang.


     Sebelum perang kemerdekaan berakhir. Wilayah Desa Balaradin pernah dijadikan sebagai tempat gerilya para pejuang kemerdekaansehingga pernah terjadi peperangan sengit antara para pejuang dan tentara kolonial Belanda yang mengakibatkan seluruh pejuang kemerdekaan gugur. Dari dasar itulah muncul istilah dalam basa jawa kala itu Bala Radin. dimana kalau didefinisikan dalam bahasa Indonesia Kata Bala mempunyai arti Teman/pasukan dan Radin mempunyai arti selesai/habis/Mati. Sehingga dapat disimpulkan lebih tepat adalah pasukannya mati semua.

     Dari Kejadian tersebut di atas akhirnya menjadi ikon/simbol tersendiri untuk sebutan wilayah dukuh Balaradin yang pada akhirnya atas inisiatif pendahulu dijadikan sebagai nama wilayah yaitu Dusun/ Balaradin.

    Dalam perkembangan wilayah dusun Balaradin kemudian ditetapkan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada sekitar tahun 1857 menjadi sebuah Desa dan di beri nama Desa Balaradin. Sebagai Lurah pertama diangkat seorang Warga Balaradin yang dianggap cakap yaitu Bapak Rangin alias H. Abdulloh. Bapak Rangin sendiri menjabat sebagai lurah dalam waktu cukup lama yaitu sejak tahun 1857 s.d 1900 yang kemudian pada tahun 1900 posisi lurah Bapak Rangin kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Wirya Diwangsa. Seperti Bapaknya, Wira Diwangsa juga menjabat lurah dalam waktu yang cukup relatif lama yaitu sejak tahun 1900 hingga tahun 1939. Kemudian pada tahun 1939 karena Wira Diwangsa sudah cukup sepuh kemudian diadakan pemilihan lurah pertama saat itu dan jailah seorang warga Desa Balaradin yang kemudian lebih dikenal sebagai lurah Conor. Sedabgkan nama aslinya adalag Adimerta. Conor sendiri adalah bukan nama orang yang sebenarnya . nama tersebut adalah hanya sebutan julukan karena dimarahi oleh wedono kala itu. Adapun kemarahan Wedono waktu itu bukan tanpa alasan, kemarahan Wedono kala itu dilatarbelakangi karena yang bersangkutan sudah diberhentikan dari jabatan lurah karena dianggap tidak cakap dalam menjalankan tugas tetapi masih melaksanakan kegiatan Piket di kecamatan dengan menggunakan pakaian dinas lurah dan dalam marahnya Wedono waktu itu keluar kata Conor berarti sepak terjang yang sembarangan yang diakibatkan karena bodoh. Entah siapa yang menyaksikan kejadian tersebut tatapi berita kemarahan wedono waktu itu menjadi sebutan nama yang bersangkutan yang pada akhirnya lbih dikenal lurah conor ketimbang namanya sendiri.

     Tidak lama kemudian pada tahun 1940 diadakan pemilihan lurah kembali dan jadilah seorang warga Desa Balaradin yang bernama Solikhan alias H. Sama'un sebagai Lurah menggantikan lurah conor. Bapak H Sama'un inilah lurah yang mengalami tiga masa pemerintahan yang berbeda yaitu pemerintahan Kolonial Belanda, Jepang dan Pemeintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian sekelumit tentang sejarah desa Balaradin dari masa perjuangan kemerdekaan sampai dengan masa kemerdekaan.



    Desa Balaradin lama kelamaan menjadi desa yang berkembang ramai apalagi dengan adanya pendatang yang ingin menetap dan tinggal di desa itu. Desa Balaradin pantas menjadi desa berkembang karena memiliki potensi alam yang baik dan dialiiri air dari anak sungai kali Gung yang membuat desa Balaradin menjadi subur. Kesejahteraan rakyat meningkat, dapat dilihat dari sebagaian rumah-rumah warga yang dibuat dari beton dan telah memenuhi standar kesehatan dan keindahan.

Dalam perkembangannya, Desa Balaradin tak selalu menjadi desa yang makmur adakalanya ujian menghapirimasyaraktnya, sehingga menimbulkan musibah baik harta benda maupun korban jiwa. Dari cerita tutur tertua masyarakat, tahun 1964 - 1967 terjadi gagal panen di Desa Balaradin. Akibat gagal panen tersebut masyarakat desa mengalami paceklik. Tidak kurang puluhan orang meninggal dunia karena penyakit muntaber. Puluhan orang lainnya terkena penyakit akibat kelaparan.
Demikian sejarah Desa Balaradin yang berhasil didokumentasikan.



Nb. Sumber : Pemerintah Desa Balaradin

Sabtu, 06 April 2013

KELEMBUTAN DAN KETEGASAN

Tidakkah kelmbutan dan ketegasan itu bertentangan?

   Memang kontradiktif.  Dalam mendidik anak, kita harus mampu menjadi orang yang lembut, tetapi tegas. Contohnya, seorang Guru mendisi[plinkan anak didiknya saat masuk kelas agar tertib. jika anak belum tertib, ingatkanlah dia dengan lembut. Misalnya dengan kalimat " Maaf, apa masih perlu ibu ingatkan bagaimana tertib itu?"
Kalau anak masih membandel?
   Kita dapat mendisiplinkannya dengan cara memisahkan dia dari teman- temannya. jadi bentuk hukumanya tidak dengan kekerasan.
kalau dengan ketegasan? seperti apa itu?
ketegasan membentuk kesadaran anak untuk tidak mengulangi suatu perbuatan yang tidak baik. landasan ketegasan itu bukanlah kemarahan, melainkan kasih sayang. berbeda dengan kekerasan yang cenderung terjadi karena kemarahan.

Tentang kasus anak menonton VCD porno atau kenakalan anak, apa yang harus kita lakukan?
     Sebaiknya kita tetap tenang menanggapi kasus ini. Beri keterangan kepada anak tentang dampak buruk jika melakukannya. Bangkitkan rasa jera kepadnaya sehingga tidak mau melakukannya lagi. Namun, yang paling penting adalah membangkitkan kesadaran si anak itu sendiri. marahilah jika anak tetap membandel. tapi setelah itu,peluklah dia dengan hangat sambil menunjukan kepedulian kita kepadanya. mereka sangat sensitif , butuh perhatian dan kedekatan kita.
Menanamkan kemandirian
Apa langkah awal dalam menanamkan kemandirian dalam anak?
        Ajarilah anak dari hal yang sederhana. misalnya membawa tas sendiri tanpa bantuan orang lain atau pengasuhnya. usia mandiri anak berkisar 18 bulan sampai 3,5 tahun. ini disebut sebagai usia otonom dan orang tua harus memfasilitasinya. misalnya. cermatilah anak ketika dia sedang belajar berdir, berjalan, atau naik tangga. sepanjang kegiatan itu tidak  menimbulkan bahaya. biarkan dia melakukanya sendir.

Apakah mengikut sertakan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kursus dapat membuatnya mandiri? 
           Mandiri bukan berarti membebanianak dengan hal- hal yang belum mereka kuasai. justru jika anak disuruh melakukan yang belum tentu mampu ia lakukan dan anak gagal, bisa- bisa dia menjadi apatis dan rasa kemandiriannya mati.
Apakah mata pelajaran anak di sekolah begitu membebani, sehingga rasa mandidi anak hilang?
             Boleh jadi. di Eropa saja, anak SMA hanya di ajarkan empat mata pelajaran. selebihnya, mereka ditekankan untuk mencari bakat dan kemauannya. bisa dibandingkan dengan pendidikan di negara kita di mana anak SMA disuguhi mata pelajaran sampai 17 mata pelajara. Apakah ini tidak membuat anak terasa terbebani

Jika anak susah di ajak mandiri, apa yang harus orang tua benahi?
             Diskusikan hal ini dengan anak. terangkan bahwwa hidup ini adalah kenyataan melalui usaha. seperti anak ayam yang mau lahir, di dalamnya pasti bergejolak terlebih terdahulu, baru anak ayam bisa keluar. biarkan anak berusaha agar bisa bertahan hidup bermasyarakat.

Sejarah Candi (Salah Satunya yang berada di Tegal)

CANDI KESUBEN Tanah peradaban, tanah mata rantai. Dua keyakinan besar di masa lampau, Hindu dan Buddha, terekam jelas di sini. Lewat ...